Funny Little Dream - Funny Little Dream
Unik ya nama lagunya sama kaya nama bandnya jadi pusing. Saya juga gatau ini band apaan, musiknya kaya gimana, lagunya apa, seriusan. Cuma tau gara-gara di homepage facebook saya muncul si Maruto ngeshare video ini dengan komen “eh keren nih videonya..” Yaudah saya cek, kan saya orangnya kepo.
Dan setelah menyaksikan. WOW EMANG KEREN. Pokonya ini salah satu video klip Indonesia terkeren yang pernah saya saksikan. Lagunya juga ternyata bagus, indie pop gitu. Keren lah. Semoga band ini bisa semakin maju!
Pokonya cek geura ini videonya. Gak akan nyesel. Support musisi negeri sendiri!
Bosan. Ya saya bosan. Melihat kembali hal-hal yang ada di blog tumblr saya ini, ternyata isinya hal yang itu-itu saja. Hasil reblog gambar yang isinya penuh dengan kata-kata berkaitan dengan kekecewaan atau apapun yang orang bilang dengan sebutan ‘galau’ itu, atau foto-foto konser. Kurang bergerak ih
Oke, seperti lagu The Triangle “Moving On” (saya belum pernah mendengar lagu ini. Biar keren aja. Biar lah sekali-kali) Saya juga ingin moving on. Moving on ke Skandinavia beres kuliah, siapa tau bisa kerja sekaligus nerusin kuliah disana. Amin. Ah tapi sebenarnya bukan moving on yang itu yang dibahas sekarang. Moving on dari isi blog yang begitu-begitu saja. Ya, saya ingin sesuatu yang berbeda! Tapi apa itu yang berbeda? Gatau belum kepikiran. Inginnya ngebahas alias review-review seputar musik, tapi da saya mah nggak sejago orang-orang yang suka review di majalah atau web musik gitu. Ingin jadi artistik gitu, da gimana lagi saya bukan seniman. Musik sih paling memungkinkan. Selain karena saya memang suka -meski tidak pandai memainkan alatnya- terhadap musik, musik adalah sesuatu yang luar biasa. Musik adalah tempat dimana kita bisa berekspresi sesuka hati dan perasaan tanpa ada suatu ikatan dan peraturan. Mantaf!
Oke yang tadi itu emang cuma keren-kerenan. Tapi emang setelah dilihat saya harus merubah isi dari blog tumblr saya ini ke depannya :)) Seperti apa? ENTAH! DA SEBENERNYA SAYA NULIS INI CUMA GARA-GARA UDAH LAMA AJA SAYA TIDAK MELAKUKAN SESUATU DENGAN TUMBLR SAYA TERCINTA INI. WOH!
Tool - Schism
Komentar? Yang jelas ini memang (dan akan selalu) POL ANJING ANJING POL! BAHAYA! SEGAN!
Bon Iver - I Can’t Make You Love Me
Video yang sebenarnya sudah ada sejak setahun lalu ini memang luar biasa. 6 menit 50 detik yang sangat indah. Dibalik ke’galau’an liriknya, tuan brewok dengan suara emas ini berhasil membawa pendengar pada suasana ‘galau’ terburuk jika sedang mengalami hal yang diceritakan dalam lagu ini. Entah apa yang akan terjadi pada saya jika saya menyaksikan video ini dalam kondisi seperti yang diceritakan lagu ini setahun lalu. Ah!
The Horrors Live in Bandung (Review)
Langit yang terus menurunkan hujan sejak sore, jalanan yang padat merayap, serta bertepatan dengan hari kasih sayang, sepertinya bukanlah kombinasi yang tepat untuk sebuah konser. Selasa (14/2), Dago Tea House gagal terisi penuh meski malam itu The Horrors tampil menggelar konser perdananya di tanah Pasundan pasca lawatannya di St. Jerome’s Laneway Festival Singapore dua hari sebelumnya. Tapi pertunjukan tetap harus berjalan, dan untungnya, tidak mengecewakan.
Lewat pukul 20.30, The Horrors mulai memasuki panggung. Faris Badwan, sang vokalis, sempat melambaikan tangannya menyapa penonton sejenak sebelum bergegas memimpin kuintet ini membuka panggung tanpa banyak basa-basi. ‘Endless Love’ dan ‘I Can See Through You’ yang dicomot dari album kedua mereka, Skying, menjadi nomor pembuka malam itu. Penonton-pun mulai berdesakan maju merapatkan bibir panggung, menyisakan ruang lapang bagi mereka yang ingin menyaksikan konser itu sambil duduk santai di area belakang.
‘Who Can Say’ menjadi nomor ketiga yang dibawakan malam itu. Sayang sekali manajemen tata suara masih belum bekerja maksimal saat itu hingga membuat bebunyian synthesizer yang menjadi penanda khas intro lagu itu tidak terdengar jelas sebagaimana mestinya. Ugh.
Jika anda merindukan The Horrors era album pertama, mungkin anda akan kecewa karena tidak ada satu-pun lagu dari album itu yang dibawakan pada konser malam itu.Entahlah, sepertinya mereka ingin melepaskan karat mentah garage rock yang sempat melekat di awal karir mereka. Deretan lagu dari album Primary Colours menjadi yang dominan dibawakan setelahnya.
Buat saya, suguhan terpenting konser itu jatuh pada ‘Moving Further Away’ yang dimainkan di penghujung konser. Termasuk pada gimmick saat Badwan beraksi mengangkat stand microphone tinggi-tinggi, mengadu kepala microphone dengan amplifier hingga menimbulkan feedback yang tercampur sempurna dengan raungan kotor yang tercipta dari tangan Joshua Hayward yang menyiksa leher gitar tanpa ampun. Sekumpulan penonton yang menggumpal di area depan tampang berjingkrak girang. Saya menangkap ada klimaks ada disana.
Konser malam itu barangkali adalah salah satu konser musisi asing tersingkat yang pernah saya saksikan. Bagusnya, The Horrors tahu bagaimana caranya menutup sebuah konser dengan baik. Sebuah poin penting yang sempat membuat saya lupa bahwa konser malam itu, sebenarnya berjalan biasa saja.
(Teks: Risyad Tabattala | Foto: Agra Suseno & Claudia Dian)